Gedhe Ultimate Innovation (GUI) mengembangkan Sistem Peringatan Dini (EWS) cerdas berbasis Internet of Things (IoT). Inovasi ini ditujukan untuk memitigasi risiko banjir bandang di kawasan pariwisata lereng Gunung Slamet, Banyumas.
Banyumas memiliki potensi wisata air yang tinggi seperti air terjun dan area susur sungai. Namun, kawasan ini rawan dilanda banjir bandang mendadak akibat peningkatan curah hujan di hulu.
Selama ini, pengelola wisata hanya mengandalkan pengamatan fisik secara manual. Akibatnya, kecepatan dan distribusi informasi terkait naiknya debit air sangat lambat diterima wisatawan.
Untuk mengatasi masalah ini, GUI memadukan teknologi IoT, SMS Broadcast, dan pelantang suara. Ketiga elemen ini berfungsi sebagai alat deteksi dini perubahan debit air ekstrem.
Sensor IoT dipasang secara strategis di kawasan pemantauan hulu sungai. Alat ini membaca data perubahan tinggi debit air secara berkala. Data tersebut kemudian dikirim ke pangkalan data untuk dipantau melalui dasbor.
Jika debit air melewati ambang batas aman, server otomatis mengirim pesan peringatan ke ponsel wisatawan. Sistem juga akan menyalakan alarm nyaring melalui pelantang suara di berbagai titik lokasi wisata.
Direktur GUI, Yossy Suparyo, menilai pengembangan EWS ini sudah masuk dalam tahap mendesak. “Inovasi ini akan meningkatkan rasa aman bagi wisatawan,” tegas Yossy.
Sistem canggih ini juga diyakini akan mempermudah pengelola wisata dalam memitigasi risiko bencana. “EWS ini diharapkan dapat menjadi media edukasi dan menekan hal-hal yang tidak diinginkan,” tambahnya.
Saat ini, pengembangan alat masih dalam tahap pengujian laboratorium serta uji fungsional. Tim melakukan pengujian dengan menciptakan model yang mendekati kondisi riil di lapangan.
Setelah lolos uji kelayakan laboratorium, PT GUI akan menggandeng pengelola wisata. Mereka bersiap melakukan uji terapan langsung di lokasi wisata air sesegera mungkin.
Tim Gedhe terus bekerja keras menghadirkan teknologi tepat guna berbiaya murah namun tetap andal. “Kami menargetkan awal 2027 produk generasi pertama ini dapat diluncurkan,” ungkap Yossy.
Inovasi mitigasi bencana ini mendapat sambutan yang sangat positif dari para pemangku kepentingan setempat. “Kami sangat menyambut positif pengembangan produk inovasi ini,” kata Sekretaris KMP Mitra Jenggala, Agung Budi Satrio.
KMP Mitra Jenggala sendiri merupakan lembaga ekonomi masyarakat penggerak konservasi alam dan pemanfaatan jasa lingkungan. Mereka sukses mengelola Curug Jenggala, Curug Muntu, Curug Gede, dan area kemping.
Kehadiran EWS ini diharapkan dapat melindungi keselamatan ribuan wisatawan dari ancaman air bah. Destinasi wisata lereng Gunung Slamet pun bisa menjadi kekuatan sosial ekonomi yang jauh lebih tangguh.



